Pengalaman Pertama Travelling
HOBI saya dari kecil dulu memang travelling. Menurut kamus "Oxford Advanced Learner's Dictionary of Current English"-nya AS Hornby, travel itu artinya make a (especially long) journey. Atawa ya melakukan perjalanan (syukur perjalanan panjang, kalau nggak pendek aja --asal bukan sehari atau dua) sudah bisa disebut 'travelling'. Naahhh ...udah tahu kan definisi 'travelling', so mari kita --saya dan teman-teman semua-- kembali ke soal perjalanan ini.
Kalau teman-teman or anda semua cuma pergi ke luar kota atau ke luar negeri sekitar 2 malam 3 hari, rasanya ini bukan travelling. Itu cuma jalan-jalan aja dan biasanya ngabisin duit buat belanja. Lain kalau travelling, selain jalan-jalan dan belanja, kita bisa melakukan eksplorasi di lokasi kita berada. Seperti saya bilang, saya sejak kecil suka banget travelling. Kalau diajak pulang kampung oleh orang tua dulu, saya suka banget. Di kampung saya Cepu (tempat alm ibu saya) atau Mrinen (desanya ayah alm) saya akan melakukan banyak aktivitas yang bikin orang tua saya senewen.
Ketika itu saya masih umur 7 tahun dan pulang kampung ke Mrinen (desa kecil di kota Prembun - Jawa Tengah) bertepatan dengan saat panen. Saya bisa setelah sarapan akan berjalan ke sepanjang sawah kakek saya dan ke sawah-sawah di wilayah lain yang bukan milik kakek saya. Ketika melakukan eksplorasi saya membawa gunting ...benar gunting. Setiap sawah yang saya lewati saya suka meminta 5 helai padi dan ketika diijinkan, saya mengguntingnya. PErjalanan menggunting padi ini bisa saya lakukan setengah hari dan pas jam 11.30 atau kadang menjelang juhur (agak lupa waktu yg tepat), ketika para petani mulai naik dari sawah untuk membuka bekalnya.
Dari perjalanan ini, saya bisa dapat dua kali dua genggaman tangan padi yang saya bawa pulang ke rumah kakek saya. Bisa dibayangkan, saya pake rok, bawa batang padi ber'lugut' (yg bisa membuat gatal) sepanjang galengan sawah (tahukan apa itu galengan ..yaitu jalanan kecil di pinggir sawah). Sesampai di rumah kakek, ibu saya bisa marah-marah karena sepanjang pagi dan siang mereka mencari saya di sawah dekat-dekat rumah tapi nggak ketemu juga. Dan yang membuat ibu saya makin marah adalah saya pulang dengan tangan gatal karena membawa batang padi yg tidak sedikit.
Kendati dimarahi, saya tidak pernah kapok melakukan 'gunting padi di sawah" bukan potong padi dengan ani-ani (alat potong padi tradisional). Mau tahu nggak, saya apakan padi-padi itu? Awalnya saya nggak tahu sama sekali mau diapakan batang padi itu. Tapi setelah tiga hari gunting padi dan sepulang saya menggunting padi di hari ketiga, saya melihat seorang petani menukarkan segenggam padi dengan cendol atau getuk.
Haaaaa ... I have a bright idea. Saya ikutan barter padi hasil guntingan saya itu dengan getuk. Keesokan harinya saya nekat nyebrang ke pasar ngaran untuk menukarkan itu dengan uang. Dengan bahasa jawa 'ngapak' yang nggak jelas saya berhasil melakukan transaksi. Begini ceritanya. Saya datang ke tukang sentir (lampu uplik dari kaleng dan minta dia beli padi saya). "Bapake, nyong ana pari, ijol duwit ya," kata saya. Awalnya mereka nggak mau ..setelah memelas ...dia kasih saya uang Rp. 5 rupiah untuk 7 genggam batang padi.
Sialnya tukang sentir itu ternyata kenal dengan kakek saya yang seorang 'kaum desa' (tukang memandikan jenazah) sekaligus pembuat sentir. Sekali lagi ...habislah saya dimarahi oleh tak hanya Ibu tetapi juga kakek dan nenek saya. Selama 3 hari saya tidak boleh keluar rumah. Itulah pengalaman tak terlupakan saya. Dan saya semakin senang melakukan perjalanan-perjalanan khusus melakukan eksplorasi satu wilayah. Saya paling senang kalau harus blusukan ke pasar tradisional di kampung dari pada pergi toko-toko serba ada. Sampai sekarang saya selalu memprioritaskan masuk pasar tradisional kalau pergi ke luar kota.
Kelas 6 SD saya sudah dilepas ibu dan bapak saya berangkat ke Cepu sendirian dengan dititipkan saudara jauh naik kereta Gaya Baru Malam. Saya menikmati perjalanan itu, meskipun jujur fasilitas kereta ekonomi tersebut sangat mengenaskan. Saya heran kenapa bapak saya membelikan saya tiket ekonomi, meski saya tahu beliau mampu membelikan tiket kereta Mutiara. Setelah berpuluh-puluh tahun kemudian saya menyadari bahwa itu membuat saya memahami kondisi di 'atas' dan di 'bawah'.
Banyak pengalaman menarik dari berbagai pengalaman travelling masa kecil saya. Sampai saya kerja dan punya kesempatan ditugaskan ke luar negeri saya semakin menyukai 'travelling' dan sekarang paling tidak setahun sekali saya pasti melakukan travelling paling tidak lebih dari 10 hari ke luar negeri. Mau tahu pengalaman saya. Baca terus blog saya ya.(***)
