Thursday, April 12, 2012

Pengalaman Pertama Travelling

Pengalaman Pertama Travelling 

       HOBI saya dari kecil dulu memang travelling. Menurut kamus "Oxford Advanced Learner's Dictionary of Current English"-nya AS Hornby, travel itu artinya make a (especially long) journey. Atawa ya melakukan perjalanan (syukur perjalanan panjang, kalau nggak pendek aja --asal bukan sehari atau dua) sudah bisa disebut 'travelling'. Naahhh ...udah tahu kan definisi 'travelling', so mari kita --saya dan teman-teman semua-- kembali ke soal perjalanan ini.
           Kalau teman-teman or anda semua cuma pergi ke luar kota atau ke luar negeri sekitar 2 malam 3 hari, rasanya ini bukan travelling. Itu cuma jalan-jalan aja dan biasanya ngabisin duit buat belanja. Lain kalau travelling, selain jalan-jalan dan belanja, kita bisa melakukan eksplorasi di lokasi kita berada. Seperti saya bilang, saya sejak kecil suka banget travelling. Kalau diajak pulang kampung oleh orang tua dulu, saya suka banget. Di kampung saya Cepu (tempat alm ibu saya) atau Mrinen (desanya ayah alm) saya akan melakukan banyak aktivitas yang bikin orang tua saya senewen.
            Ketika itu saya masih umur 7 tahun dan pulang kampung ke Mrinen (desa kecil di kota Prembun - Jawa Tengah) bertepatan dengan saat panen. Saya bisa setelah sarapan akan berjalan ke sepanjang sawah kakek saya dan ke sawah-sawah di wilayah lain yang bukan milik kakek saya. Ketika melakukan eksplorasi saya membawa gunting ...benar gunting. Setiap sawah yang saya lewati saya suka meminta 5 helai padi dan ketika diijinkan, saya mengguntingnya.  PErjalanan menggunting padi ini bisa saya lakukan setengah hari dan pas jam 11.30 atau kadang menjelang juhur  (agak lupa waktu yg tepat), ketika para petani mulai naik dari sawah untuk membuka bekalnya. 
           Dari perjalanan ini, saya bisa dapat dua kali dua genggaman tangan padi yang saya bawa pulang ke rumah kakek saya. Bisa dibayangkan, saya pake rok, bawa batang padi ber'lugut' (yg bisa membuat gatal) sepanjang galengan sawah (tahukan apa itu galengan ..yaitu jalanan kecil di pinggir sawah). Sesampai di rumah kakek, ibu saya bisa marah-marah karena sepanjang pagi dan siang mereka mencari saya di sawah dekat-dekat rumah tapi nggak ketemu juga. Dan yang membuat ibu saya makin marah adalah saya pulang dengan tangan gatal karena membawa batang padi yg tidak sedikit.
           Kendati dimarahi, saya tidak pernah kapok melakukan 'gunting padi di sawah" bukan potong padi dengan ani-ani (alat potong padi tradisional). Mau tahu nggak, saya apakan padi-padi itu? Awalnya saya nggak tahu sama sekali mau diapakan batang padi itu. Tapi setelah tiga hari gunting padi dan sepulang saya menggunting padi di hari ketiga, saya melihat seorang petani menukarkan segenggam padi dengan cendol atau getuk. 
           Haaaaa ... I have a bright idea. Saya ikutan barter padi hasil guntingan saya itu dengan getuk. Keesokan harinya saya nekat nyebrang ke pasar ngaran untuk menukarkan itu dengan uang. Dengan bahasa jawa 'ngapak' yang nggak jelas saya berhasil melakukan transaksi. Begini ceritanya. Saya datang ke tukang sentir (lampu uplik dari kaleng dan minta dia beli padi saya). "Bapake, nyong ana pari, ijol duwit ya," kata saya. Awalnya mereka nggak mau ..setelah memelas ...dia kasih saya uang Rp. 5 rupiah untuk 7 genggam batang padi.
         Sialnya tukang sentir itu ternyata kenal dengan kakek saya yang seorang 'kaum desa' (tukang memandikan jenazah) sekaligus pembuat sentir. Sekali lagi ...habislah saya dimarahi oleh tak hanya Ibu tetapi juga kakek dan nenek saya. Selama 3 hari saya tidak boleh keluar rumah. Itulah pengalaman tak terlupakan saya. Dan saya semakin senang melakukan perjalanan-perjalanan khusus melakukan eksplorasi satu wilayah.  Saya paling senang kalau harus blusukan ke pasar tradisional di kampung dari pada pergi toko-toko serba ada. Sampai sekarang saya selalu memprioritaskan masuk pasar tradisional kalau pergi ke luar kota.
          Kelas 6 SD saya sudah dilepas ibu dan bapak saya berangkat ke Cepu sendirian dengan dititipkan saudara jauh naik kereta Gaya Baru Malam. Saya menikmati perjalanan itu, meskipun jujur fasilitas kereta ekonomi tersebut sangat mengenaskan. Saya heran kenapa bapak saya membelikan saya tiket ekonomi, meski saya tahu beliau mampu membelikan tiket kereta Mutiara. Setelah berpuluh-puluh tahun kemudian saya menyadari bahwa itu membuat saya memahami kondisi di 'atas' dan di 'bawah'. 
              Banyak pengalaman menarik dari berbagai pengalaman travelling masa kecil saya. Sampai saya kerja dan punya kesempatan ditugaskan ke luar negeri saya semakin menyukai 'travelling' dan sekarang paling tidak setahun sekali saya pasti melakukan travelling paling tidak lebih dari 10 hari ke luar negeri. Mau tahu pengalaman saya. Baca terus blog saya ya.(***)

Thursday, April 5, 2012

KE LUAR NEGERI ITU GAMPANG!! NABUNG DOLAR AJA.

KE LUAR NEGERI? Mau siih ...tapi mahal! Sepertinya kata mahal itu harus segera dibuang dari kepala, kalau kita mau jalan-jalan ke luar negeri. Kalau dulu --sepuluh dua puluh tahun lalu-- mungkin aja ke luar negeri muahalll banget. Mahal ongkos transportasinya (ongkos pesawat) dan juga ongkos hotelnya. Udah gitu semua harus diatur sama pihak travel alias biro perjalanan. Tapi sekarang ...jangan khawatir !!! UDah banyak penerbangan murah (low fare airline) dan juga situs-situs hebat yang menawarkan hotel alias akomodasi terjangkau (affordable) tanpa harus pake jasa biro perjalanan.

Persoalannya mungkin, buat yang hobi jalan-jalan apa lagi jalan-jalan ke luar negeri ...ketika mau jalan nyediain ongkosnya yang langsung 'gedeeee bangettt', meskipun cuma ke Singapur atau Bangkok saja. Paling nggak menyediakan uang begitu mau jalan-jalan memang merepotkan. Merepotkan kantong maksud saya. Padahal jalan-jalan ke luar negeri tidak harus menguras kantong seketika kalau kita-kita tahu trik-nya.

Ini tips jalan-jalan saya ke luar negeri dan selama ini ternyata works banget dan layak deh diikutin, kalau mau. Awalnya, saya ke luar negeri karena tugas dari kantor. Selain kerja, ada juga fun-nya. Bisa sekalian jalan-jalan dibayarin sama kantor. Setelah itu kok lama-lama ketagihan juga. Sayangnya begitu jalan pake biaya sendiri, ongkos yang keluar ....alamakkk !!! Langsung buanyaak dan tabungan amblas.

Buatlah tabungan khusus jalan-jalan dalam dolar                    foto by seekingalpha.com

NABUNG DOLAR
Akhirnya setelah liat sana-sini dan belajar dari pengalaman, mulailah saya buat perencanaan. Saya nabung khusus buat jalan2. Gak banyak kok. Tiap habis gajian, saya alokasikan gajian itu buat bayar kartu kredit, tagihan listrik - telpon - gas dll, nabung 25 persen dari gaji ke bank dan beli dolar sebanyak US$ 100 aja atau menyisihkan Rp. 1 juta buat beli dolar. tergantung kurs saat itu. Kalau pas sedolar Rp. 9.000,- bisa dapat 100 dolar lebih dikit. tapi paling minim emang beli seratus dolar.

Setahun saya pasti punya US$ 1.200 dari tabungan jalan-jalan. Biasanya kalau dapat bonus, sekitar 30 persen bonus, saya beliin dolar juga. Lumayan kan?? Dengan duit segitu kalau cuma liburan kawasan Asia Tenggara sudah lebih dari cukup. Buat pecinta jalan-jalan pemula ini lumayanlah. Uang segitu udh bisa sampai Asia tenggara dan Hongkong. At least setahun sekali kalau kita rajin bisa jalan ke luar negeri. Misalnya aja mau ke Singapur (buat pemula niih), beli tiket pesawat yang low fare (Airasia, Tiger Airways, Valueair) PP bisa sekitar 80 dolar. Naah penginapan cari di Lucky plasa untuk dua malam tiga hari habis sekitar Rp. 1.2 juta per orang bahkan bisa kurang kalau perginya lebih dari 3 orang. Sisanya buat beli oleh2 deh. Udah dapat segudang kayanya kalau cuma gantungan kunci and coklat. Nggak perlu visa dan dokumen lainnya.

Gampang kan??? Gimana kalau gaji kurang dan ga bisa beli dolar sebanyak jumlah di atas setiap bulannya. Beli US$ 50 aja. Jangan kaya orang susah dong ;).  Atau semampunya. Dan jalan-jalannya juga nggak harus setahun sekali. Dua tahun sekali cukuplah dan setahun sekali jalan ke kawasan Indonesia saja. Percaya deh kalau cuma singapur aja cukup dan lebih murah dari pada Bali or Medan.

Jadi tunggu apa lagi. Ayo mulai nabung dan menjelajah dunia. Paling tidak ketika kita sudah keluar dari negeri sendiri, kita bisa melihat budaya lain dan peradaban lain di luar sana yang membuat kita belajar dan memahami orang lain lebih baik dengan perbedaan ya ada. Ke luar negeri itu gampang, kalau kita punya niat dan mau. Gak percaya?? Coba tips saya itu. Ini tips nabung, tips lain seperti cari hotel, nentuin itinerary menyusul. Dengan punya perencanaan yang baik, jalan-jalan kita nggak sekadar jalan-jalan dan belanja doang. Okey ...Salam jalan-jalan dari saya.(***)