Monday, January 9, 2017

Cilok Ala Kuromon Ichiba Market, Osaka

Kuromon Ichiba Market   by tupungato @123RF.com
KEMANAPUN pergi, pasar buat saya tetep primadona. Harus didatangi, nyoba makanan yang dijual disitu dan tentunya beli makanan khasnya buat oleh-oleh. Begitu juga ketika saya ke Osaka--April 2016, salah satu itinerary saya adalah blusukan ke pasar tradisional paling populer di Osaka. Kuromon Ichiba Market namanya. Mau cari makanan laut mulai dari salmon, kepiting, belut, oyster, udang, cumi, scalop, gurita sampai ikan-ikan yang  nggak pernah saya  lihat sebelumnya. Semuanya segar dan menggiurkan buat dicoba.

Lokasinya juga nggak susah dicari. Dimanapun nginapnya, kalau mau ke Kuromon, naik saja subway ke Nipponbashi. Begitu turun di stasiun itu, keluar lewat EXIT 2. Jalan nggak sampai 3 menit sudah langsung sampai di pasar Kuromon. Atau bisa juga naik subway turun di stasiun Namba dan jalan agak lebih lama sekitar 4 - 9 menit. Begitu masuk ke area pasar--yang buka dari pukul 8 pagi sampai 5 sore ini--saya sudah disambut banyak penjual makanan di kiri kanan (seperti kelihatan di gambar).  Jalannya bersih, lebar dan nggak bikin kita senggol-senggolan kaya di pasar senggol. 

Mau pilih makanan laut mentah, steam dan bakar tinggal lihat ke kios-kios yang ada disitu. Hebatnya orang Jepang, semua makanan dimasak langsung dan saya bisa tinggal tunjuk mana yang mau dibeli. Harganya sekitar 500 - 3000 yen. Temen saya bilang, "Di pasar ini jualan cilok nggak ya. Loe, kan doyan banget makan cilok Ris". Pas saya mau jawab, mata saya melihat warung di depan saya  yang menjual Takoyaki. "Di sini ciloknya ya takoyaki itu," jawab saya. Dan memang setelah saya masuk ke pasar lebih jauh, penjual takoyaki bertebaran di Kuromon Ichiban Market.

by 123RF.com
Buah-buahan dan sayuran juga dijual disini.   by Niradj @123RF.com
Saya membeli makanan ketengan dari satu kios ke kios lain. Beli sashimi salmon yang manis dan enakkkk banget seharga 400 yen. BEda rasa sashiminya sama di Indonesia. Lebih manis dan segar. Membeli strawberry Amao, khas Osaka yang harganya 600 yen dapat satu plastik isi 10 buah. Warna strawberrynya ada yang merah, pink dan putih. Kalau lihat dari jauh seperti buah plastik. Rasanya ... jangan tanya. Muaanisss banget. Di Kuromon bukan cuma  aneka makanan laut tetapi juga buah-buahan, sayuran dan peralatan rumah tangga dan peralatan masak. Aneka sumpit juga dijual disini. Kios hidangan laut yang lumayan kondang disini namanya Kurodon Sanpei. Makanan yang banyak dipesan kepiting dan salmon sashimi. Kepitingnya amboi manisnya dan tinggal disruput saja dari cangkangnya. Dagingnya yang merah putih bikin ketagihan. Sayang saya ga bisa makan banyak, soalnya mau coba-coba yang lain.

Makan siang saya--setelah mencicip sana sini--jatuh pada seporsi nasi dengan mackarel bakar. Nasinya anget, acar lobaknya mantap dan mackarel yang ditaburi acar jahenya lembut dan tanpa amis sama sekali. Teksturnya membuat lidah nggak berhenti bergoyang kecuali ikannya habis :). Mengeksplorasi pasar ini nggak membosankan buat saya. Kalau saja tidak ingat bahwa saya masih harus jalan ke tempat lain, pasti saya memilih jalan-jalan di Kuromon lebih lama. 

Jadi kalau mau tahu budaya JEpang khususnya Osaka, cobalah jelajahi pasarnya dan temukan keindahan rasa makanannya dan juga keramahan orang-orangnya. Oya hampir lupa, di Kuromon ini juga kita bisa makan Kobe Beef yang endesss bingits itu. Sayangnya saya nggak cicip kobe beef di Kuromon. Saya makan Kobe Beef di Kyoto. Nanti ceritanya tentang Kyoto ya dan juga pasar Nishikinya yang luar biasa menyenangkan buat saya. Pasti penasaran kan...mari ditunggu tulisan berikutnya.(***)

Sunday, January 8, 2017

KOLN, The Land of 4711

KOLN atau Cologne sama aja. Ketika jalan-jalan ke Eropa tahun 2010 saya sempatkan mampir ke kota ini. Persisnya, kota ini ada di Jerman Barat. Lokasinya lebih dekat sama Belanda. Karena rute jalan saya turun dari Belanda, Belgia, Luxemburg terus ke Perancis dan berakhir di Roma, Italia, Saya nggak mungkin ngaprak sampai ke kota-kota di Jerman lainnya seperti Hamburg, Berlin, Bonn dan Munich. Tapi saya tetep kepingin ke Jerman. Biar jumlah negara Eropa yang dikunjungi lebih dari 5 negara.Pilihan terbaik mampir  ke Jerman  adalah ke kota Koln atawa Cologne, The Land of 4711.

Kenapa 4711?? Itu nomer kode buntut atau malah nomer kode pos khusus kota Cologne--begitu tulisannya dalam bahasa Inggris. Begitu sampai di stasiun Hauptbahnhoft-Cologne, di bawah atap stasiun ada lampu neon besar bertuliskan 4711. Kelihatan kan gambarnya? Ingatan saya langsung terbang ke masa-masa 40 tahun ke belakang,sekitar tahun 77 an. Bapak dan Ibu saya menyimpan sebotol eau de cologne 4711 itu di lemari. Bahkan bapak saya sering banget pake tisu basah merk 4711 itu, yang dulu sering disebut kolonyet. Setelah sampai Cologne ini saya baru tahu kalau 4711 ternyata asli punya Jerman, khusunya Cologne. Itu sebabnya namanya Eau de Cologne 4711 (parfum asli dari kota Cologne) dan 4711 menunjukkan  lokasi pembuatannya di Glockengasse No. 4711. Naahh... nggak salah deh saya menyebut Cologne sebagai The Land of 4711. Apalagi dimana-mana di kota ini dijual aneka parfum merk 4711.


Memang si 4711 asli Cologne, tapi di kota ini nggak cuma bisa liat pabriknya parfum itu. Banyak hal menarik bisa dilihat disini. Beda dengan kota-kota besar lain di Jerman, Koln itu kota tua yang usianya sudah lebih 2000 tahun. Kota yang luasnya juga lebih kecil dari Jakarta ini--sekitar 450 km2, dibelah oleh sungai Rhine. Nggak seperti sungai2 kebanyakan di kota-kota besar di Indonesia, Sungai Rhine sangat bersih dan bebas sampah. Saya naik kapal khusus untuk turis menyusuri Rhine. Angin musim semi saat itu membuat saya terpesona menikmati Cologne dari kapal. Buat temen-temen yang mau mampir ke Cologne dan nggak punya cukup banyak waktu, cobalah naik kapal menyusuri Rhein, dijamin sebagian besar pemandangan kota bisa dinikmati dari sini hanya dalam waktu kurang dari 70 menit.

Membeli tiket kapal bisa di dermaga sungai yang ada di sepanjang sungai Rhine. Harga tiketnya 25 - 30 euro. Selain naik kapal, apalagi yang bisa dinikmati di Koln. Nggak beda dengan kota-kota di negara Eropa, gereja adalah salah satu tempat tujuan wisata di Cologne. DOM merupakan gereja katolik peninggalan abad pertengahan. Bangunannya bernuansa gothic. Ketika saya dan teman-teman mampir ke gereja ini, gereja sedang direstorasi. Pemerintah setempat menghabiskan jutaan dolar untuk merestorasi gereja. Itu yang saya sangat sukaakkk dari negara Eropa. Negara-negara di Eropa menjaga bangunan bersejarahnya dengan baik dan bahkan mau merogoh kocek besar-besaran untuk melestarikan peninggalan sejarahnya.

Makanannya bagaimana? Di Jerman nggak afdol kalau nggak makan sosis. Bratwurst ...sosis segede gaban harus dicoba disini. Mau yang halal ada dan haram juga ada. Warung atau kios penjaja makanan bertebaran di kawasan belakang DOM. Selain toko-toko buat belanja oleh-oleh, kios makanan bisa ditemui di sana. Toko roti dan bagel banyak sekali. Harga makanan berkisar 2 sampai 5 euro. Makanan restoran juga ada. Harganya per porsi lumayan menguras kantong. Steak sapi relatif mahal  dibanding steak non halal. Harganya 13 sampai 25 euro. Jangan pesan omelet di restoran. Layaknya PAris...harga omelet atau telur dadar kalau dikurs uang Indonesia bisa 150 ribuan. So pilih mkanan restoran atau kios sepertinya nggak ada bedanya. Rasa enaknya hanya sampai di pangkal tenggorokan.

Last but not least ...Saya masih penasaran sama Jerman. Saya janji pada diri sendiri untuk nanti menjelajah Jerman yang bukan cuma Cologne.  Masih ada Berlin, HAmburg, Bonn dan  Frankfurt dan Munich tentunya. Kapan ke sana lagi? Seperti biasa tunggu rejeki jatuh dari langit. Hehehehe.... kata ustadz saya rejeki nggak pernah jatuh dari langit. Rejeki ada karena kerja. Dan saya memang sedang bekerja untuk jalan-jalan lagi.(***)


DOM cathedral
Beberapa foto Koln saya.





Jembatan di atas Sungai Rhine
Koln - Dusseldorf


Koln kota terbesar keempat di Jerman

DOM diambil dari Kapal

Di atas kapal.