Kenapa 4711?? Itu nomer kode buntut atau malah nomer kode pos khusus kota Cologne--begitu tulisannya dalam bahasa Inggris. Begitu sampai di stasiun Hauptbahnhoft-Cologne, di bawah atap stasiun ada lampu neon besar bertuliskan 4711. Kelihatan kan gambarnya? Ingatan saya langsung terbang ke masa-masa 40 tahun ke belakang,sekitar tahun 77 an. Bapak dan Ibu saya menyimpan sebotol eau de cologne 4711 itu di lemari. Bahkan bapak saya sering banget pake tisu basah merk 4711 itu, yang dulu sering disebut kolonyet. Setelah sampai Cologne ini saya baru tahu kalau 4711 ternyata asli punya Jerman, khusunya Cologne. Itu sebabnya namanya Eau de Cologne 4711 (parfum asli dari kota Cologne) dan 4711 menunjukkan lokasi pembuatannya di Glockengasse No. 4711. Naahh... nggak salah deh saya menyebut Cologne sebagai The Land of 4711. Apalagi dimana-mana di kota ini dijual aneka parfum merk 4711.Memang si 4711 asli Cologne, tapi di kota ini nggak cuma bisa liat pabriknya parfum itu. Banyak hal menarik bisa dilihat disini. Beda dengan kota-kota besar lain di Jerman, Koln itu kota tua yang usianya sudah lebih 2000 tahun. Kota yang luasnya juga lebih kecil dari Jakarta ini--sekitar 450 km2, dibelah oleh sungai Rhine. Nggak seperti sungai2 kebanyakan di kota-kota besar di Indonesia, Sungai Rhine sangat bersih dan bebas sampah. Saya naik kapal khusus untuk turis menyusuri Rhine. Angin musim semi saat itu membuat saya terpesona menikmati Cologne dari kapal. Buat temen-temen yang mau mampir ke Cologne dan nggak punya cukup banyak waktu, cobalah naik kapal menyusuri Rhein, dijamin sebagian besar pemandangan kota bisa dinikmati dari sini hanya dalam waktu kurang dari 70 menit.
Membeli tiket kapal bisa di dermaga sungai yang ada di sepanjang sungai Rhine. Harga tiketnya 25 - 30 euro. Selain naik kapal, apalagi yang bisa dinikmati di Koln. Nggak beda dengan kota-kota di negara Eropa, gereja adalah salah satu tempat tujuan wisata di Cologne. DOM merupakan gereja katolik peninggalan abad pertengahan. Bangunannya bernuansa gothic. Ketika saya dan teman-teman mampir ke gereja ini, gereja sedang direstorasi. Pemerintah setempat menghabiskan jutaan dolar untuk merestorasi gereja. Itu yang saya sangat sukaakkk dari negara Eropa. Negara-negara di Eropa menjaga bangunan bersejarahnya dengan baik dan bahkan mau merogoh kocek besar-besaran untuk melestarikan peninggalan sejarahnya.
Makanannya bagaimana? Di Jerman nggak afdol kalau nggak makan sosis. Bratwurst ...sosis segede gaban harus dicoba disini. Mau yang halal ada dan haram juga ada. Warung atau kios penjaja makanan bertebaran di kawasan belakang DOM. Selain toko-toko buat belanja oleh-oleh, kios makanan bisa ditemui di sana. Toko roti dan bagel banyak sekali. Harga makanan berkisar 2 sampai 5 euro. Makanan restoran juga ada. Harganya per porsi lumayan menguras kantong. Steak sapi relatif mahal dibanding steak non halal. Harganya 13 sampai 25 euro. Jangan pesan omelet di restoran. Layaknya PAris...harga omelet atau telur dadar kalau dikurs uang Indonesia bisa 150 ribuan. So pilih mkanan restoran atau kios sepertinya nggak ada bedanya. Rasa enaknya hanya sampai di pangkal tenggorokan.
Last but not least ...Saya masih penasaran sama Jerman. Saya janji pada diri sendiri untuk nanti menjelajah Jerman yang bukan cuma Cologne. Masih ada Berlin, HAmburg, Bonn dan Frankfurt dan Munich tentunya. Kapan ke sana lagi? Seperti biasa tunggu rejeki jatuh dari langit. Hehehehe.... kata ustadz saya rejeki nggak pernah jatuh dari langit. Rejeki ada karena kerja. Dan saya memang sedang bekerja untuk jalan-jalan lagi.(***)
| DOM cathedral |
| Jembatan di atas Sungai Rhine |
| Koln - Dusseldorf |
| Koln kota terbesar keempat di Jerman |
| DOM diambil dari Kapal |
| Di atas kapal. |
No comments:
Post a Comment