Monday, October 29, 2012

Ngintip Stasiun dari Jendela MRT

SELALU saja ada pengalaman lucu dan tak terlupakan ketika saya pertama kali pergi ke suatu negara. Begitu juga ketika saya pergi ke Singapura. Pertama kali saya ke Singapura dalam rangka kerjaan. Saya harus bertemu klien dari Phillips yang waktu itu mau meluncurkan produk terbaru yaitu 'mobile phone'. Saya harus bertemu dengan orang-orang marketing regional di Singapura dan melakukan wawancara dengan direktur komunikasinya, yang saya lupa namanya. Hasil wawancaranya untuk dimuat sebagai advertorial di media tempat saya kerja.

Sebenarnya saat itu bukan kedatangan saya yang pertama. Saya beberapa kali ke sana tapi hanya transit di Changi dan kemudian pada kesempatan Phillips ini saya bisa masuk ke dalam kota dan menginap selama 2 malam 3 hari. Semuanya jadwal perjalanan oke-oke saja karena seluruh penginapan, perjalanan bahkan juga makan sudah diatur oleh agency dari Jakarta. Saya tinggal tenang-tenang saja menikmati semuanya.

Hanya saja pada hari kedua, setelah makan siang, saya ditawari untuk jalan keliling tidak naik mobil melainkan naik MRT. Tentu saja saya senang. Saya pengen juga merasakan naik MRT yang katanya oke itu. Saya diajak naik dari stasiun City Hall menuju Orchard, karena para teman agency akan mengajak saya jalan kaki dari Orchard sampai ke Sommerset dan ke ujung arah wisma Atria (pada waktu itu saya lupa apakah Atria sudah ada di kawasan Orchard). Naah pada saat naik MRT ini terjadi kekonyolan yang saya lakukan dan tentunya bikin muka merah and maluuu...!

Begitu masuk stasiun City Hall, saya sudah terkagum-kagum dengan kondisi stasiun yang luar biasa bersih. Padahal waktu itu, MRT-nya belum seperti sekarang yang keretanya tidak terlihat sampai kereta berhenti dan pintu gerbang terbuka dan di dalamnya pintu MRT terbuka. Dulu keretanya langsung kelihatan dan pintu terbuka tanpa ada pembatas gerbangnya. Selain itu gap antara kereta dengan lantai turun juga kelihatan. Itupun sudah membuat saya kagum luar biasa. Apalagi sekarang ...makin canggih, makin aman dan tentunya makin nyaman.

Jadi jangan salahkan saya kalau saya agak sedikit norak juga. Bayangkan biasa naik KRL di Jakarta eehh ...tiba-tiba naik MRT. Ada banyak kekagetan  saat itu. Kekagetan pertama, nggak ada penumpang yang berebutan naik ke dalam kereta. Semua antri dengan tertib. Yang turun dapat giliran keluar dan baru yang mau naik bisa masuk. Di dalam kereta ...hmmmhh ....bersihnya luar biasa. Nggak ada sampah sedikitpun seperti KRL.

Lainnya. selalu mendahulukan perempuan, orang tua dan tentunya mereka yang memang membutuhkan tempat duduk. Rasanya seneng banget saya bisa naik MRT. Bisa buat cerita ke teman-teman nantinya, begitu pikir saya. Sayangnya perilaku saya meski naik MRT masih sama dengan kalau naik KRL (dulu Jakarta belum ada Commuter Line kaya sekarang). Mata saya jelalatan melihat keluar kereta ...padahal semuanya gelap. Maklum kan itu MRT ada di dalam tanah. Baru terang kalau sudah sampai stasiun.

Tapi tetap saja mata saya jelalatan. Dan saya nggak berhenti-berhenti juga mengintip keluar melalui jendela MRT untuk mengetahui sudah sampai stasiun mana. Mungkin karena bolak-balik saya mengintip ke jendela, seorang teman dari agency bertanya, "Ris liatin apaan sih dari jendela?'

"Liat sampai stasiun mana. takut kelewatan," jawab saja kalem.
"Aduh Ris ...kenapa bikin leher cape dan mata jereng ngintipin. Tuuhh ... di atas pintu ada lampu kedip2 yang menandakan kita sampai di stasiun mana dan kereta sudah mau dekat di stasiun mana. Tinggal liat aja kalau pintunya di sebelah kiri, maka warna di kiri nyala hijau and kalau pintu di kanan, lampu di kiri nyalah merah," ujar dia menjelaskan sambil cekikikan.

Gubraaaakkkss ...tinggal saya melongo kaya orang bego dan mengalihkan mata saya dari jendela ke petunjuk arah di atas pintu MRT. Astaganaga ...beginilah kalo orang kampung naik MRT. Yang bikin sebelll ...sorenya ketika di kantor Phillip pada saat makan malam, para orang agency itu menceritakan hal ini ke para klien. Tawa mereka tentu saja pecah dan memaklumi kejadian tersebut. Tapi tetap saja saya maluuuu bangetttt!! Rasa malu ini sampai sekarang masih saya simpan dan saya share sekarang.(***)

No comments:

Post a Comment