Thursday, November 22, 2012

Bugis Yang Bukan Bugis

TAHU nggak artinya Bugis. Kalau di Jakarta bugis itu nama kue yang dibuat dari tepung ketan dan di dalamnya diisi unti (kelapa dan gula) dan dibungkus daun pisang. Tapi ada juga bugis lainnya yaitu suku Bugis di Makasar Indonesia. Tapi ciyusss ... :) ... saya nggak ngomongin dua bugis ini. Saya lagi mau share tentang Bugis yang ada di Singapura. Bugis yang sudah ada sejak tahun sebelum 1950 merupakan kota utama sebagai salah satu tujuan wisata di Singapore. Ternyata menurut yang empunya cerita dari penduduk setempat, sebelum Inggris masuk ke Singapura, orang Bugis dari Sulawesi Selatan (Indonesia) datang ke kawasan ini untuk berdagang.

Suku Bugis yang memang dikenal sebagai pelaut dan pedagang handal, banyak melakukan perjalanan dagang sampai ke Singapura. Banyak orang-orang Bugis yang katanya tinggal di sana. Itulah sebabnya kawasan ini disebut juga sebagai kawasan Bugis. Sekitar tahun 1950 - 1980 an kawasan ini dikenal sebagai tempat mangkalnya para banci (seperti taman lawang di Jakarta). Tempat ini merupakan daerah tujuan wisata top pada masa itu. Baru pada pertengahan 80-an, kawasan Bugis Street diremajakan menjadi kawasan wisata retail dan pada malam hari banyak bertebaran restoran serta warung-warung makanan yang menjadikan jalan ini mengasyikan buat jalan-jalan.

Tapi sekarang Bugis Street sudah menjadi kawasan yang conblok dan justru  lebih mengasyikan dan lebih tertata. Ada mall besar yaitu Bugis Junction yang di bawahnya terdapat Bugis MRT Station. Di lantai Ground Bugis Junction banyak terdapat kios-kios makanan yang beragam dari berbagai negara. Jajanan Korea, Jajanan Singapore, Jajanan India dan berbagai jajanan yang mewakili berbagai suku bangsa yang ada di Singapura. Sementara kawasan Bugis Strret tetap dilestarikan hanya saja penataan jadi lebih rapi.

Juli lalu saya ke Singapura --saya selalu mampir ke Bugis setiap kali ke Singapura-- saya ke Bugis dan melakukan napak tilas saya sendiri. Begitu turun dari MRT saya dan ponakan saya membeli jajanan di Bugis Junction. Setelah puas jajan, saya naik ke atas --mall-- dan window shopping di sana. Puas window shopping dan kemudian membeli payung di Seiyu. Setelah itu saya langsung melenggang ke Bugis Street di seberangnya. Di sini aneka makanan dijual di warung-warung dan kedai. Harganya beragam. Rasanya ada yang enak tapi ada juga yang biasa-biasa saja. Ada ayam panggang enak di jalan ke dalam pasar dan ujung sebelah kanan. Saya suka ayam panggang ini karena pedas dan segar.

Bugis Street ini tidak terlalu populer bagi turis. Justru orang-orang Singapura yang sering belanja di sini. Padahal oleh Dinas Pariwisata Singapura ini merupakan lokasi perbelanjaan di jalan terbesar yang ada di Singapura. Berdasarkan pengamatan saya memang orang singapura yang banyak berbelanja di sini. Jarang terlihat orang Indonesia seperti di Orchard atau Mustafa Mall di kawasan Little India. 

Sesekali datanglah ke Bugis Street, harga barang disana relatif murah. SEmakin ke dalam semakin banyak pedagang dan jenis barang di sana. Ada pedagang suvenir kuno di sana dengan harga yang relatif murah. Ketika tahun 2009 saya kesana bersama teman-teman, seorang teman membeli papan catur antik hanya 25 dolar Sing. Padahal kalau beli di toko barang antik bisa 80 dolar Sing. HArga T-shirt juga murah-murah. Makanan beraneka ragam mulai dari kembang tahu, susu kedelai dan lain-lain. Harga buah-buahan di bagian belakang lebih mahal pedagangnya menurut saya galak-galak, karena kalau ditawar dan tidak sesuai maunya kita disuruh pergi dan tidak boleh pegang2 buahnya ...hehhehe. 

Di Bugis Street ini memang ada pasar tradisional dan saya suka sekali blusukan di sana ketika pagi hari dan malam semakin marak saja suasananya. Yang lebih menarik, tak jauh dari kawasan Bugis ini --jalan sekitar 500 meter-- sampailah kita di Kampong Glam. Kawasan orang-orang islam dan arab di sana. Ada Mesjid berkubah keemas-emasan. Saya suka kawasan ini karena juga banyak pedagang yang seluruhnya nyaris keturunan Melayu, Bugis dan Arab. Saya akan cerita tentang Kampong Gelam pada episode berikutnya. 

KEmudian tak jauh dari kampung gelam ini ada kawasan kampung yang ditata apik dan di sisi kiri kanannya banyak cafe, resto kecil yang cantik tak ubahnys seperti rumah-rumah kecil di Venesia tapi ini khas gaya Singapore. Kawasan ini ada di jalan Haji. Jadi ingat ya, Singapore bukan cuma Orchard, ada banyak tempat lainnya yang menarik dan tentunya di luar perkiraan kawasan itu ada di Singapore. Mau tahu lebih banya bisa tanya saya di blog saya atau bisa comment di tulisan saya. Have a great trip in Singapore!!(***)

[edit]


No comments:

Post a Comment